Jumat, 07 April 2017

Karapan Sapi

Karapan Sapi: Madura Punya Tradisi


pasuruan Karapan Sapi adalah acara khas masyarakat Madura yang di gelar setiap tahun pada bulan Agustus atau September, dan akan di lombakan lagi pada final di akhir bulan September atau October. Pada Karapan Sapi ini, terdapat seorang joki dan 2 ekor sapi yang di paksa untuk berlari sekencang mungkin sampai garis finis. Joki tersebut berdiri menarik semacam kereta kayu dan mengendalikan gerak lari sapi. Panjang lintasan pacu kurang lebih 100 meter dan berlangsung dalam kurun waktu 10 detik sampai 1 menit.

Selain di perlombakan, karapan sapi juga merupakan ajang pesta rakyat dan tradisi yang prestis dan bisa mengangkat status sosial seseorang. Bagi mereka yang ingin mengikuti perlombaan karapan sapi, harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melatih dan merawat sapi-sapi yang akan bertanding sebelumnya. Untuk membentuk tubuh sepasang sapi yang akan ikut karapan agar sehat dan kuat, dibutuhkan biaya hingga Rp4 juta per pasang sapi untuk makanan maupun pemeliharaan lainnya. Sapi karapan diberikan aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari, terlebih-lebih menjelang diadu di arena karapan.

Bagi masyarakat Madura, Kerapan dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Untuk saat ini, selain sebagai ajang yang membanggakan, kerapan sapi juga memiliki peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi, yaitu sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan, peran magis religious; misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu. Terdapat seorang 'dukun' yang akan 'mengusahakan'nya. Pada setiap tim pasti memiliki seorang 'dukun' sebagai tim ahli untuk memenangkan perlombaan.

Prosesi awal dari karapan sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang

Olahraga Benteng

Olahraga Tradisional "BENTENG"

Penulis :
Ir. BIasworo Adisuyanto Aka, MM
Sumber :
Buku Peraturan Permainan "Benteng" diterbitkan oleh Direktorat Keolahragaan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

Olahraga tradisional "Benteng" merupakan permainan asli budaya bangsa Indonesia yang berkembang diberbagai daerah di Indonesia dengan nama permainan berbeda. Dalam buku Peraturan Permainan Benteng yang diterbitkan Direktorat Keolahragaan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 1985, menyebutkan bahwa sejarah perkembangan permainan "Benteng" ini tidak diketahui dengan pasti, yang jelas sejak masa anak-anak dan dimasa generasi kakek dan nenek, permainan ini sudah dikenal, digemari dan dimainkan oleh rakyat. Permainan ini disebut "Benteng", karena masing-masing regu pada hakekatnya berusaha saling menyerang dan mempertahankan bentengnya, juga berusaha menghindarkan diri dari tangkapan/sentuhan musuhnya agar tidak tertawan.

Permainan olahraga tradisional ini sangat menarik, walaupun dibeberapa daerah mempunyai nama dan sebutan berbeda, namun hakekatnya permainannya hampir serupa. Dikatakan hampir serupa, karena ada perbedaan yang tidak merubah makna dan pengertian untuk saling mempertahankan bentengnya. Dalam buku tersebut juga menjelaskan bahwa data yang diperoleh bahwa permainan yang hampir bersamaan dengan permainan ini ada juga di daerah lainnya, seperti (1) Provinsi Lampung, nama permainannya : Main Benteng, Gamit Tikam, dan Kecubung Minta Api (2) Provinsi Jambi namanya : Merebut Benteng (3) Provinsi Kalimantan Tengah namanya Tawanan (4) Provinsi Nusa Tenggara Timur namanya Hakdiuk Lise (5) Provinsi Bengkulu namanya Sekejar (6) Daerah Khusus Ibukota Jakarta namanya Benteng. BIsa saya tambahkan di Provinsi Jawa Timur juga terdapat permainan yang mirip namun berbeda nama dan memiliki ciri khas berbeda dari daerah lainnya, seperti di daerah Kabupaten Pamekasan diberi nama "Chu", sedangkan di daerah Jember diberi nama "Chucuan". Bentuk permainannya sama, tetapi ketika berlari dan mengejar lawan wajib membunyikan kata "Chuuuuuuuuu", tidak boleh berhenti ketika belum kembali pada posisi bentengnya.

Dalam buku peraturan permainan Benteng yang diterbitkan oleh Direktorat Keolahragaan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 1985, bahwa permainan ini disebut benteng, karena dalam permainan yang dilakukan secara beregu itu pada hakekatnya berusaha saling mempertahankan posnya agar tidak tersentuh oleh regu lawan mainnya yang selain mempertahankan posnya juga berusaha menyerang pos musuhnya.

Permainan "Benteng" adalah salah satu permainan asli rakyat Indonesia yang perlu dibina dan dilestarikan, mengingat dalam permainan tersebut mengandung unsur positif dan mempunyai sifat permainan untuk perlu dilestarikan, yaitu mengandung unsur massal, murah, manarik, serta menggembirakan. Secara terselubung bahwa olahraga permainan "Benteng" ini merupakan suatu kegiatan kebudayaan yang di dalamnya terdapat unsur kesehatan, sportifitas, keindahan, kejujuran, kesetiakawanan (solidaritas), keuletan, ketekunan, dan kebanggaan nasional apabila hal ini dilakukan secara teratur, terencana, dan terpimpin.

Peraturan permainan "Benteng"
1. Tempat/Lapangan, bentuk persegi panjang, ukuran 50 m x 50 m, daerah benteng berbentuk lingkaran berdiameter 3 meter. Lingkaran tersebut dengan jarak 10 meter dari garis belakang dan garis samping. Lapangan ditandai dengan garis selebar 5 cm. Sedangkan daerah tawanan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 10 meter x 1 meter;
2. Peralatan (a) bendera dua helai 30 cm x 20 cm dengan warna yang berbeda (b) Tiang bendera : dua meter dari permukaan tanah dengan garis menengah 5 cm (c) garis menggunakan kapur/cat/line paper (d) sempritan (e) jam/stop watch (f) nomor dada;
3. Waktu dan lamanya permainan 2 x 25 menit dengan istirahat 10 menit;
4. Setiap regu terdiri dari 10 orang, cadangan 2 orang;
5. Cara bermain : (a) sebelum permainan dimulai diadakan undian (b) Regu yang menang undian memulai permainan dengan cara keluar dari benteng untuk memancing lawan (c) setiap pemain berfungsi sebagai pemancing atau yang dikejar dan juga sebagai pengejar. Ia akan menjadi pengejar regu lawan, apabila lawan lebih dahulu meninggalkan bentengnya dan ia akan menjadi orang yang dikejar oleh lawan apabila ia belakangan meninggalkan bentengnya (d) anggota regu yang tertangkap akan menjadi tawanan dari pihak lawan (e) cara menangkap cukup dengan menyentuh bagianbadan dari lawan (f) Tawanan yang berkumpul di daerah tawanan, dapat bebas kembali apabila teman regunya yang belum tertangkap dapat membebaskan dengan jalan menyentuh bagian badannya. Tawanan yang lebih dari satu orang, semuanya dapat dibebaskan dengan jalan menyentuh salah seorang tawanan apabila satu sama lain dalam keadaan berpegangan/bergendengan (g) kapten egu ditandai dengan ban/pita dilengan kanan dan bertugas mengatur setiap anggota regunya. Bla kapten regu tertangkap, tugas diserahkan kepada salah seorang anggota regu (h) benteng satu regu dinyatakan terbakar, apabila salah seorang dari regu lawan dapat membakar benteng dengan cara menginjakkan salah satu kakinya di daerah benteng lawan (i) setelah salah satu regu benteng terbakar, permainan dilanjutkan dengan regu yang berhasil membakar berfungsi sebagai pemancing (j) pemain yang keluar dari garis lapangan permainan dianggap tertangap.
6. Pergantian pemain berlangsung setiap regu diperbolehkan mengadakan pergantian pemain sebanyak 2 kali;
7. Wasit, pembantu wasit, dan pencatat (a) pertandingan dipimpin oleh seorang wasit dan dua orang pembantu wasit (b) tugas wasit, memimpin jalannya pertandingan (b) tugas pembantu wasit ialah membantu wasit, khusus dalam hal memancing, mengawasi garis, mengawasi tahanan dan pembakaran benteng (d) pencatat bertugas mencatat nilai yang diperoleh masing-masing regu dan mengawasi penggantian pemain;
8. Penilaian dan pentuan pemenang (a) regu yang dapat membakar benteng lawannya mendapat nilai satu. regu yang paling banyak membakar benteng lawannya dinyatakan sebagai pemenang (b) apabila pada akhir pertandingan kedua regu mendapat nilai yang sama, maka diadakan pertandingan perpanjangan 2 x 5 menit tanpa istirahat (c) apabila masih tetap sama, maka ditentukan dengan undian/tos.

Sejarah Olahraga Pacu Jalur




Sejarah

Sejarah Pacu Jalur berawal abad ke-17, di mana jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan CerentiKecamatan Cerenti di hilir. Saat itu memang belum berkembang transportasi darat. Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40-60 orang. Kemudian muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).[3]
Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu. Baru pada 100 tahun kemudian, warga melihat sisi lain yang membuat keberadaan jalur itu menjadi semakin menarik, yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antar jalur yang hingga saat ini dikenal dengan nama Pacu Jalur.[3]
Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya Pacu Jalur diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu Pacu Jalur diadakan sekitar bulan Agustus. Dapat digambarkan saat hari berlangsungnya Pacu Jalur, kota Jalur bagaikan lautan manusia. Terjadi kemacetan lalu lintas di mana-mana, dan masyarakat yang ada diperantauan akan terlihat lagi, mereka akan kembali hanya untuk menyaksikan acara ini. Biasanya jalur yang mengikuti perlombaan, bisa mencapai lebih dari 100. Menurut masyarakat setempat jalur adalah 'perahu besar' terbuat dari kayu bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung (anak pacu).[3]
Pada masa penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri rakyat dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Kegiatan pacu jalur pada zaman Belanda di mulai pada tanggal 31 agustus s/d 1 atau 2 september. Perayaan pacu jalur tersebut dilombakan selama 2-3 hari, tergantung pada jumlah jalur yang ikut pacu.[3]

Proses Pembuatan Jalur

Jalur adalah sejenis perahu yang dibuat dari batang kayu utuh, tanpa dibelah-belah, dipotong-potong atau disambung-sambung. Ciri-cirinya adalah kukuh-kuat, ramping, artistik, sehingga pada waktu berpacu tidak dikhawatirkan pecah, jalannya laju dan sedap dipandang. Pembuatan jalur melalui proses yang cukup panjang, yaitu:[4]
  1. Untuk menyusun rencana kerja pertama-tama diselenggarakan musyawarah atau rapek kampung yang dihadiri oleh berbagai unsur seperti pemuka adat, cendekiawan, kaum ibu dan pemuda, dipimpin oleh seorang pemuka desa, biasanya pemuka adat. Bila disepakati untuk membuat jalur, lalu ditentukan langkah lebih lanjut.
  2. Memilih kayu. Kayu yang dicari itu harus memenuhi persyaratan kualitas (jenis), ukuran dan lain-lain, terutama bobot magis atau spi¬ritualnya. Jenis kayu yang dipilih adalah kayu banio, kulim kuyiang atau yang lain, harus lurus panjangnya sekitar 25-30 meter, garis te-ngah 1-2 meter dan mempunyai mambang (sejenis makhluk halus). Harus dipertimbangkan agar setelah menjadi jalur dapat mendukung anak pacu 40-80 orang. Dalam acara pemilihan kayu ini peranan pawang sangat penting. Sesudah pilihan ditentukan dibuatlah upacara semah agar kayu itu tidak "hilang" secara gaib.
  3. Menebang kayu. Kayu yang sudah disemah oleh pawang lain ditobang dengan alat kapak dan beliung. Dahan dan ranting dipisahkan.
  4. Memotong ujung. Kayu yang sudah bersih diabung (dipotong) ujungnya menurut ukuran tertentu sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat kemudian kulit kayu dikupas, diukur dibagi atas bagian haluan, telinga, lambung, dan kemudian dengan alat benang.
  5. Pendadan atau meratakan bagian depan (dada) yakni bagian atas kayu yang memanjang dari pangkal sampai ke ujung.
  6. Mencaruk, atau mengeruk, melubangi bagian dalam kayu yang panjang itu dengan ketebalan yang seimbang.
  7. Menggiling atau memperhalus bagian samping atas sehingga terbentuk bagian bibir perahu sekaligus mulai membentuk bagian luar bagian atas.
  8. Manggaliak atau membalikkan dan menelungkupkan, yang tadinya terletak diatas ganti berada di bawah sehingga bagian luar dapat dikenakan, dirampingkan dengan leluasa. Pekerjaan ini memerlukan perhitungan cermat sebab harus selalu menjaga keseimbangan kete¬balan semua bagian jalur. Cara mengukurnya antara lain dengan membuat lubang-lubang kakok atau bor yang kemudian ditutup lagi dengan semacam pasak.
  9. Manggaliak atau menelentangkan lagi.
  10. Membentuk haluan dan kemudi.
  11. Menghela atau menarik jalur yang sudah setengah jadi itu ke kam¬pung disertai upacara maelo jalur. Disini kegotongroyongan sangat besar artinya.
  12. Menghaluskan, mengukir terus dinaikkan ke atas ram Account pian lalu diasapi.
  13. Penurunan jalur ke sungai, selesailah proses pembuatan perahu yang ditutup dengan upacara pula.

Aturan Permainan

Peserta Pacu Jalur
Perlombaan Pacu Jalur Taluk Kuantan memakai penilaian sistem gugur. Sehingga peserta yang kalah tidak boleh turut bermain kembali. Sedangkan para pemenangnya akan diadu kembali untuk mendapatkan pemenang utama. Selain itu juga menggunakan sistem setengah kompetisi. Di mana setiap regu akan bermain beberapa kali, dan regu yang selalu menang hingga perlombaan terakhir akan menjadi juaranya. Perlombaan meriah ini dimulai dengan tanda yang cukup unik, yaitu dengan membunyikan meriam sebanyak tiga kali. Meriam ini digunakan karena bila memakai peluit, suara peluit tidak akan terdengar oleh peserta lomba. Karena luasnya arena pacu dan riuh penonton yang menyaksikan perlombaan.[1]
Pada dentuman pertama jalur-jalur yang telah ditentukan urutannya akan berjejer di garis start dengan anggota setiap regu telah berada di dalam jalur. Pada dentuman kedua, mereka akan berada dalam posisi siap (berjaga-jaga) untuk mengayuh dayung. Setelah wasit membunyikan meriam untuk yang ketiga kalinya, maka setiap regu akan bergegas mendayung melalui jalur lintasan yang telah ditentukan. Sebagai catatan, ukuran dan kapasitas jalur serta jumlah peserta pacu dalam lomba ini tidak dipersoalkan, karena ada anggapan bahwa penentu kemenangan sebuah jalur lebih banyak ditentukan dari kekuatan magis yang ada pada kayu yang dijadikan jalur dan kekuatan kesaktian sang pawang dalam "mengendalikan" jalur.[2]

Acara

Kegiatan Pacu Jalur merupakan pesta rakyat yang terbilang sangat meriah. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Pacu Jalur merupakan puncak dari seluruh kegiatan, segala upaya, dan segala keringat yang mereka keluarkan untuk mencari penghidupan selama setahun. Masyarakat Kuantan Singingi dan sekitamya tumpah ruah menyaksikan acara yang ditunggu-tunggu ini.[5]
Selain sebagai acara olahraga yang banyak menyedot perhatian masyarakat, festiyal Pacu Jalur juga mempunyai daya tarik magis tersendiri. Festival Pacu Jalur dalam wujudnya memang merupakan hasil budaya dan karya seni khas yang merupakan perpaduan antara unsur olahraga, seni, dan olah batin. Namun, masyarakat sekitar sangat percaya bahwa yang banyak menentukan kemenangan dalam perlombaan ini adalah olah batin dari pawang perahu atau dukun perahu. Keyakinan magis ini dapat dilihat dari keseluruhan acara ini, yakni dari persiapan pemilihan kayu, pembuatan perahu, penarikan perahu, hingga acara perlombaan dimulai, yang selalu diiringi oleh ritual-ritual magis. Pacu Jalur dengan demikian merupakan adu tunjuk kekuatan spiritual antar dukun jalur. Selain perlombaan, dalam pesta rakyat ini juga terdapat rangkaian tontonan lainnya, di antaranya Pekan Raya, Pertunjukan Sanggar Tari, pementasan lagu daerah, Randai Kuantan Singingi, dan pementasan kesenian tradisional lainnya dari kabupaten atau kota di Riau.[

Perahu Naga

Perahu naga

Perahu naga (Hanzi tradisional: 龍舟 atau 龍船; Hanzi sederhana: 龙舟 atau 龙船; Pinyin: lóngzhōu, lóngchuán) adalah perahu yang sangat panjang dan sempit yang digerakkan oleh tenaga manusia dan digunakan pada olahraga dayung perlombaan perahu naga. Dalam perlombaan, perahu ini biasanya dihiasi dengan kepala dan ekor naga dan diharuskan untuk membawa genderang besar dalam perahunya. Masyarakat Tionghoa suku Han sering menggunakan istilah "Turunan Naga" sebagai identitas etnis mereka. Di luar kegiatan lomba, hiasan naga biasanya tidak digunakan, tapi genderang tetap dibawa dalam perahu untuk kepentingan latihan.
Lomba perahu naga sesuai tradisi diadakan untuk memperingati kematian Qu Yuan. Lomba ini merupakan satu-satunya olahraga yang diperingati sebagai libur nasional. Menurut kalender Imlek, acara ini diadakan pada tanggal 5 bulan 5 yang bisanya jatuh pada suatu tanggal di bulan Juni.

Duanwu Jie (Hanzi: 端午節) atau yang dikenal dengan sebutan festival Peh Cun di kalangan Tionghoa-Indonesia adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah Cina. Peh Cun adalah dialek Hokkian untuk kata pachuan (Hanzi: 扒船, bahasa Indonesia: mendayung perahu). Walaupun perlombaan perahu naga bukan lagi praktik umum di kalangan Tionghoa-Indonesia, namun istilah Peh Cun tetap digunakan untuk menyebut festival ini.
Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou. Perayaan festival ini yang biasa kita ketahui adalah makan bakcang (Hanzi: 肉粽, hanyu pinyin: rouzong) dan perlombaan dayung perahu naga. Karena dirayakan secara luas di seluruh Cina, maka dalam bentuk kegiatan dalam perayaannya juga berbeda di satu daerah dengan daerah lainnya. Namun persamaannya masih lebih besar daripada perbedaannya dalam perayaan tersebut.

Berkas:Pehcun.jpg

Olahraga Gedeu - Geudeu

Geudeu-geudeu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Geudeu-geudeu (atau disebut juga deudeu) adalah salah satu seni bela diri tradisional rakyat Pidie/Pidie Jaya. Seni bela diri ini seperti gulat yang dimainkan oleh kaum laki-laki. Satu tim terdiri dari 3 orang. Biasanya geudeu-geudeu ini dipertandingkan antar kampung, diadakan setiap selesai panen padi.

Daftar isi

Sejarah

Kisah kelahiran geudeu-geudeu berawal dari usaha mengasah ketahanan mental dan jiwa laskar kerajaan. Karena sangat berbahaya, olahraga keras ini tidak pernah memperebutkan juara, karena bisa berakibat fatal. Di Pidie dan Meureudu, dahulunya, ketika masa luah blang (pasca panen) atau saat bulan purnama, geudeu-geudeu kerap dipertandingkan. Pemuda berbadan kekar berbondong-bondong mengikutinya, meski tak ada hadiah selain badan yang lebam. Hadiahnya nyatanya sering tak berwujud, hanya sebuah kebanggaan belaka yang jadi pemuas bagi petarung yang menang. Adu fisik ini hanya sekadar 'pleh bren' alias mengendurkan otot-otot yang tegang melalui pertarungan. Kebanggaan lainnya, sering pula dianggap perkasa dan menjadi lirikan ujung mata para gadis kampung.

Seni beladiri

Sebagai seni beladiri, geudeu-geudeu merupakan olahraga keras, petarung geude-geude harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat, tahan pukul dan bantingan lawan. Selain itu petarung geudeu-geude juga dituntut kesabaran dan ketabahan. Di sinilah emosi diolah. Bila emosi petarung tidak stabil, maka bisa berujung pada kematian.
Kesabaran para pemain diuji dengan berbagai lontaran kata-kata kasar dari para penonton. Karena itu pula, sepanjang sejarah pertarungan geudeu-geude, belum pernah terjadi pertarungan di luar arena. Artinya, sikap sportif para pemain sangat tinggi. Meski di arena mereka babak belur dan bonyok, tapi di luar arena itu dianggap sebagai sebuah kewajaran dan banyak dari petarung ini yang melanjutkan Duduk-duduk/minum kopi bersama selepas pertandingan.
Akhir tahun 1980-an, geudeu-geudeu masih sering dipertunjukkan di Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya pertarungan ini dibagi dalam dua katagori, yakni antar pribadi dan antar perwakilan kampung. Siapa pun boleh ikut, syaratnya berani dan mampu menahan pukulan serta hempasan lawan dan juga emosi tentunya.

Sistem permainan

Sistem pada permainan geudeu-geudeu, para petarung terlebih dahulu dibagi dalam dua kelompok besar. Petarung pertama tampil ke arena untuk menantang dua petarung lainnya dengan mengkacak-kacak sambil 'Keutrep Jaroe' membunyikan jari . Arena biasanya terbuat dari jerami yang berfungsi sebagai matras.
Petarung pertama yang menantang dua lawan disebut ureung tueng (penantang). Sedangkan petarung yang ditantang yang berjumlah dua orang tadi, disebut sebagai ureug pok (orang yang menerima tantangan). Ketika diserang, petarung pertama akan memukul dan menghempas dua petarung lain yang menyerangnya. Dan Khusus bagi ureung tueng boleh menggunakan gempalan tanganya untuk memukul dimana saja, kecuali dibawah pusar. Untuk ureung pok mereka hanya boleh membanting dan menghempas sambil mereka berpegangan tangan. jika pegangan tangan ureng pok ini terlepas atau salah satu dari mereka roboh akibat hantaman ureung tueng, maka mereka dianggap kalah.
Begitu juga dengan ureung tueng, apabila ureung pok sanggup menghempas atau membantingnya maka dia dianggap kalah.
Pada babak ke dua, posisi pemain dibalik. Posisi tueng akan beralih ke pok, begitu juga sebaliknya. Hal ini terus berlangsung dalam limit waktu tertentu (ronde). Sampai salah satu pihak menang.

Wasit

Lazimnya sebuah pertandingan, geudeu-geudeu juga dipimpin oleh beberapa orang wasit, yang disebut sebagai ureung seumeugla (juri pelerai) yang biasanya berjumlah empat atau lima orang. Para juri tersebut juga merupakan orang orang yang tangkas dan kuat, sehingga mampu melerai para petarung.
Biasanya yang menjadi ureung seumegla tersebut merupakan para mantan petarung geudeu-geudeu itu sendiri, yang memiliki pengalaman dan insting soal geudeu-geudeu.
Seorang wasit geudeu-geude bisa melihat apakah petarung itu memukul dengan sikap profesionalisme atau emosional. Karena antara professional dan emosional petarung itulah wasit berperan menentukan kapan sebuah pertarungan harus dihentikan.

Olahraga Pathol

Pathol memiliki makna “Jago yang tak terkalahkan“ dan Sarang adalah tempat dimana olahraga ini lahir. Pathol merupakan olahraga gulat tradisional yang berasal dari Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Olahraga ini sangat terkenal di wilayah pantai utara dari Serang, Rembang, dan Tuban. Olahraga ini sering di selenggarakan pada saat event-event yang penting seperti sedekah laut.
Layaknya seperti gulat pada umumnya, olahraga ini mempertandingkan dua orang di tengah arena. Arena dari olahraga ini biasanya berupa pasir karena itu sering dimainkan di pantai. Kedua atlet pathol hanya mengenakan celana pendek serta menggunakan selendang/sabuk yang terikat dipinggang. Selendang/sabuk ini berfungsi untuk menjatuhkan lawan. Saat pertandingan dimulai, setiap atlet memegang selendang/sabuk yang terikat di pinggang masing-masing lawan. Pegulat yang menang adalah yang berhasil menjatuhkan lawan hingga punggungnya menempel di pasir/arena.
Gerakan-gerakan pathol kemudian dikembangkan oleh pemuda dan masyarakat setempat hingga akhirnya tumbuh menjadi olahraga yang digemari dan bahkan dijadikan kesenian tradisional. Semoga dengan kita lestarikan budaya khas tradisional sarang, olahraga ini bisa dikenal oleh seluruh bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia. Olahraga tradisional ini mempunyai sejarah yang sangat penting di masa lalu yang harus dimengerti oleh generasi muda yang akan datang.

Olahraga Tradisional Sampyong



Gambar 1. Grup Sampyong Tugu berpose setelah diambil gambar oleh Rajawali Televisi. +Meneer Panqi 2012.

Pendahuluan
Seperti diketahui bersama, setiap daerah di Indonesia memiliki seni olahraga tradisional. Olahraga tradisi ini lahir dan berkembang dari kultur dan kebiasaan masyarakat setempat. Demikian juga dengan Indramayu, yang memiliki seni olahraga sampyong. Olahraga tradisional ini lahir dari kultur keras yang ada di Indramayu.

Indramayu adalah salah satu wilayah yang diperebutkan pada masa lalu, wilayah yang bernilai lebenstrum atau living space, ruang kehidupan dalam pengertian geostrategi. Memiliki pelabuhan terbesar kedua di Jawa setelah Sunda Kelapa, yang waktu itu dikuasai oleh Kerajaan Padjajaran. Kemudian, kedatangan R. Arya Wiralodra dari Kerajaan Demak Bintara ke Indramayu, juga dengan tujuan mengambil alih pelabuhan strategis ini. Apalagi selain memiliki pelabuhan, Indramayu juga daerah yang kaya akan sumber daya alam.

Dalam catatan sejarah diketahui, Selain dikenal sebagai penghasil mangga, kapas, dan padi. Indramayu sejak zaman kolonial juga dikenal sebagai daerah penghasil gula. Indramayu pernah merasakan masa keemasan komoditas gula diakibatkan sugar boom pada masa pemerintahan Hindia Belanda antara tahun 1920-1930 dimana produksi mencapai sekitar 3 juta ton dan diekspor sekitar 2,6 juta ton. Pada tahun 1929 jumlah Pabrik Gula (PG) mencapai 179 pabrik di seluruh Jawa. Sayangnya Industri mulai runtuh tahun 1930-an akibat resesi ekonomi dunia (world recession).

Juga, jangan menutup mata kedatangan Tentara Dai Nippon pada masa Perang Dunia ke II ke Pulau Jawa pertama kali mendarat di Eretan Wetan, Indramayu. Jepang memahami betul, bahwa Indramayu adalah salah satu daerah penghasil minyak, ikan, dan padi. Tentu, keadaan ini tak disia-siakan, karena akan membantu Jepang untuk kebutuhan logistik selama berperang. Tak heran, jika kemudian Jepang menggulirkan kebijakan politik “aiko kurisawa”, tentang kewajiban serah padi kepada petani Indramayu.

Dalam kehidupan yang keras dan kejam ini, sebuah keniscayaan dibutuhkan keamanan dan pertahanan diri. Inilah yang melahirkan sampyong sebagai seleksi keprajuritan dan kemudian berkembang mengikuti denyut perubahan zaman, hingga hanya sekedar sarana hiburan olahraga, seni olahraga duel. Tak ubahnya dengan olahraga sebangun dan serupa di daerah-daerah lain di Indonesia, seperti karapan sapi di Madura.

Sejarah Sampyong
Dalam catatan yang berhasil dikumpulkan, kemunculan sampyong tak lepas dari kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Jawa dalam penjelajahan dunia-nya. Berawal dari Dinasti Yuan yang sedang merosot, banyak terjadi konflik di Tiongkok, Saat itu kaisar Zhu di Istana Beiping (Beijing) mencanangkan program pengembalian kejayaan Tiongkok yang merosot akibat kejatuhan Dinasti Mongol (1368), Cheng Ho menawarkan diri untuk mengadakan muhibah ke berbagai penjuru negeri.
Gambar 2. Peta perjalanan penjelajahan dunia Laksamana Cheng Ho. Sumber : Yooniq Images

Dalam kurun waktu 1405-143, Cheng Ho memang pernah singgah di kepulauan nusantara selama 7 kali. Ketika berkunjung ke samudera Pasai, dia menghadiahi lonceng raksasa Cakradonya kepada Sultan Aceh. Lonceng itu saat ini tersimpan di Museum Banda Aceh. Tempat lain di Sumatera yang dikunjungi adalah Palembang dan Bangka.

Selanjutnya mampir di pelabuhan Sunda Kelapa (kini Tanjung Priok), tahun 1415 mendarat di Junti Indramayu. Ketika menyusuri laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada itu) sakit keras. Sauh segera dilempar di pantai Junti. Mereka tinggal membuat pondokan. Wang yang kini dikenal dengan sebutan Ki Dampu Awang atau Sam Po Toa Lang. Ki Dampu Awang terkenal sebagai orang yang sakti dan kuat, sehingga bisa mengalahkan bajak laut di Lautan Pantura Jawa.
Gambar 3. Ilustrasi berlabuhnya Laksamana Cheng Ho di Jawa. Sumber : https://kyawkyawoo.wordpress.com
Lambat laun, ketenaran dan kesaktian Ki Dampu Awang terdengar oleh Ki Benthong seorang sakti mandraguna dari bumi Dermayu. Mendengar kesaktian Ki Dampu Awang, Ki Benthong ingin mencoba dan membuktikan kesaktian yang dimiliki oleh Dampu Awang. Singkat cerita, seriwayat Ki Dampu Awang dan Ki Benthong akhirnya dipertemukan. Untuk membuktikan siapa jawara diantara keduanya, digunakanlah sebatang rotan. Inilah cikal bakal tradisi sampyong di desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, Indramayu.

Perkembangan Sampyong
Dalam tatar ke-sampyongan dikenal dua aliran yang memiliki kekhasan masing-masing, dua aliran sampyong tersebut, ada gaya wetanan & gaya kulonan. Wilayah yang terkenal pada gaya kulonan, seperti Suket Bajul & Manggungan. Di wilayah gaya wetanan yang dikenal adalah gaya sampyong khas Tugu. Ada istilah yang dikenal oleh para praktisi jawara sampyong yakni "Tangane Malangkerik, sikile digoleng ngangkat, ujunge dipikul".
Gambar 4. Malangkerik, simbol ksatria menantang lawannya. Sumber : +Meneer Panqi, 2012.

Gambar 5. Gaya wetanan, dengan mengangkat kaki sebelah. Sumber : Panji Darussalam, 2012.

Ujung adalah sebutan nama rotan yang dipakai dalam seni sampyong. Sikile digoleng ngangkat, goleng adalah tanda dari seorang “garet” bahwa pertandingan siap dimulai dengan cara membuat garis di tanah—arena. Garet adalah sebutan untuk wasit dalam permainan sampyong. Sedangkan “malangkerik” yakni berkacak pinggang adalah simbol seorang ksatria menantang lawannya untuk menggertak dengan gaya petantang-petenteng.
Gambar 6. Pemain sampyong sedang berduel, mencari celah untuk memukul. Sumber : Doni W, 2014.

Menurut versi kekandaan, sampyong atau ada yang menyebut juga dengan nama “ujungan” adalah tradisi yang awalnya digunakan untuk menyeleksi para prajurit, terus berevolusi menemukan jatidirinya sesuai zaman yang terus berkembang. Sehingga akhirnya hanya jadi sekedar hiburan pelengkap pada tradisi Unjungan.

Sedangkan jika ditilik dari segi bahasa, kata sampyong ini mendapatkan pengaruh dari unsur budaya Cina. Sam itu tiga, pyong itu pukulan, tiga kali memukul seperti dalam aturan permainan samptong.

Aturan Main Sampyong
Permainan sampyong menggunakan alat berupa sebilah rotan yang berukuran lebih kurang 60-80 cm (ujung). Alat tersebut digunakan untuk memukul lawan. Permainan ini harus dilakukan di tengah lapangan dan para penonton berdiri mengelilingi pemain yang sedang berlomba untuk saling mengalahkan. Selain alat tersebut, permainan ini menggunakan musik gamelan dan beberapa wasit.
Gambar 7. Pemain sampyong sedang "goleng". Sumber : Panji Darussalam, 2014.

Seorang pemain hanya diperkenankan memukul sebanyak 3 (tiga) kali pukulan. Sasaran pukulan hanya sebatas betis ke bawah, tidak lebih dari itu. Pemain dapat bermain pada kelas yang ditentukan menurut usia, misalnya golongan tua (dawuk) dan pemuda (nom-noman).

Seluruh peserta memasuki arena dipimpin oleh seorang garet  (wasit), melakukan penghormatan kepada penonton dengan iringan kendang, kenong, dan gong. Lebih populer disebut musik bongklengan. Pertunjukan diawali dengan jogedan oleh tokoh sampyong kawakan dan biasanya merekalah yang kemudian jadi garet. Ini pertunjukan pembuka.

Selepas itu dilanjutkan dengan  utama, seorang pemain berhadapan dengan pemain lainnya menurut urutan panggilan. Dimeriahkan dengan suara musik bongklengan dan riuh penonton. Pemain yang melanggar aturan dinyatakan kalah. Permainan diakhiri jika salah seorang pemain sudah dapat memukul lawannya tiga kali. Sampyong biasanya diselenggarakan berbarengan dengan Unjungan. Waktunya adalah sore hari.
***
Meneer Panqi
Penulis, pemerhati budaya, dan konsultan media kreatif. Fokus dalam social movement untuk Indonesia Creative. Banyak bekerjasama dalam dunia branding, design, dan media sosial.